Jumat, 29 Mei 2026

Kalpataru 2026


 Bagaimana Sejarah Penghargaan Kalpataru.


Penghargaan Kalpataru lahir dari keprihatian dan Paradigma Pembangunan Berwawasan Lingkungan yang digagas oleh Presiden Suharto dan Prof. Emil Salim, untuk memberikan peran dan pelibatan masyarakat dalam pelestarian lingkungan hidup. Tahun 1978 Presiden Soeharto menyampaikan “Pembangunan tidak harus bertentangan dengan pelestarian lingkungan hidup, pelestarian lingkungan hidup yang bertujuan memelihara kelanggengan sumberdaya alam tidak harus bertentangan dengan Pembangunan”.



Maka pada tahun 1980 pemerintah pertama kali memberikan “Hadiah Lingkungan: kepada masyarakat yang melakukan pelestarian Lingkungan hidup dengan tujuan memelihara kelanggengan sumberdaya alam, “Hadiah Lingkungan” pertama kali diberikan kepada 8 (delapan) individu/kelompok. Pada tahun 1981, Markus Djajaningrat, Sarjana Seni Rupa ITB mendapatkan tugas untuk menentukan gambar pada perangko seri lingkungan hidup. Dalam pencariannya, sarjana ITB tersebut menemukan relief “pohon kehidupan” pada Candi Mendut di Jawa Tengah yang mencerminkan tatanan makhluk hidup. Relief “pohon kehidupan” tersebut diberi nama “Kalpataru” maka sejak tahun 1981 nama “Hadiah Lingkungan” berubah menjadi “Penghargaan Kalpataru” yang diberikan dalam 3 (tiga) kategori yaitu Kategori Perintis Lingkungan, Kategori Pengabdi Lingkungan, dan Kategori Penyelamat Lingkungan. Seiring berjalannya waktu pada tahun 1989 bertambah 1 (satu) Kategori yaitu Kategori Pembina Lingkungan dan menjadi 4 (empat) Kategori yaitu Kategori Perintis Lingkungan, Kategori Pengabdi Lingkungan, Kategori Penyelamat Lingkungan dan Kategori Pembina Lingkungan sampai saat ini.




Maka Kalpataru 2026 menjadi semangat dan kekuatan untuk melangkah lebih luas menjaga kelestarian, melalui Gerakan Literasi Lingkungan di desa Kanreapia dan Kabupaten Gowa. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

'' TERIMA KASIH ATAS KOMENTAR ANDA''

''Tassilalo Ta'rapiki T'awwa, Sipakainga Lino Lattu Akhira''