Sabtu, 05 Desember 2015

Ketika Sarjana Berlomba Mencari Lowongan Justru Saya Kembali Bertani



Ketika para sarjana berlomba – lomba mendaftar menjadi PNS, ketika para Master  berlomba – lomba menjadi Dosen, ketika Sarjana dan master sibuk membuat lamaran dan mengikuti pendaftaran, ketika  itu saya kembali menjadi seorang PETANI. Ketika itu saya kembali mengambil cangkul dan peralatan pertanian yang lain.
Hal inilah membuat sebagian orang merasa aneh dan lucu karena ini akan susah di pahami oleh orang lain, tetapi ini membuatku enjoy dan bangga menjadi seorang master yang bisa kembali menjadi seorang petani.
Lahan, tanaman dan petani selalu saya jadikan Artis – artis dalam potretan kamera yang menjadi bagian dari alat pertanian yang selalu saya bawa. Potret pertanian kini selalu menjadi isu dan berita di media – media yang memberikan dukungan kepada aktifitas pertanianku.
Rasa heran dari masyarakatpun terasa dan akhirnya mereka bertanya, Kok saya kembali bertani padahal  saya seorang  sarjana. Saya di anggap buang – buang waktu dan biaya karena bertahun – tahun kuliah dan akhirnya kembali bertani.

Anggapan negative akhirnya ikut berdatangan, saya di jadikan patokan kepada anak – anak petani, para orang tua tambah malas menyekolahkan anak – anaknya,  mereka tidak membiarkan kuliah anak – anaknya dengan alasan percuma kuliah jika akhirnya kembali bertani, seperti saya.
Ini adalah sebuah pertanyaan yang harus saya jawab dan buktikan bahwa apapun pekerjaan yang kita kerjakan semuanya harus di sertai dengan ILMU, kuliah  dan menjadi sarjana tidak mesti harus menjadi pegawai (PNS) tetapi dengan kembalinya sarjana ke desa dan bertani akan membantu pemerintah mengembangkan pembangunan bangsa.
Logika sederhana bahwa biaya kuliah S 1 dan S 2 yang di keluarkan orang tua saya semuanya bersumber dari hasil pertanian, berkat pertanian saya bisa kuliah dan bisa menjadi seorang Master.
Artinya pertanian membuat saya seperti ini, saya lahir dari pertanian dan menjadi master karena pertanian.
Hingga akhirnya dengan proses berjalannya waktu anggapan negative selama ini yang telah di pikirkan masyarakat berubah 99 % menjadi positif, karena perubahan pola pikir dan cara bertani mulai di olah lebih menarik, modern dan alamiah dengan system bertani secara organic.
Dengan melakukan dampingan, menyiapkan lahan percontohan, pameran pupuk organic, panen raya dan membuat konsep Agrowisata.
Hal – hal seperti inilah yang selama ini tidak pernah tersentuh, baik keaktifan kelompok – kelompok Tani, dana 100 juta buat Gapoktan dan pupuk subsidi yang tidak tepat sasaran.
Dengan gerakan ini, petani mulai merasakan akan posisi dan jati dirinya bahwa sang petani adalah pahlawan pangan yang selama ini terlupakan dan di abaikan. Tidak ada petani tidak ada makanan, seorang Presiden saja tidak bisa makan jika tidak ada petani. Inilah hebatnya petani.
Akhirnya melalui lembaga Gapoktan Butta Gowa, sebagai wadah Komunikasi Petani sayapun melahirkan beberapa konsep yaitu, melahirkan
-       Iqra Diniyah, sebagai tempat mengaji anak – anak
-       Rumah Baca sebagai wadah menciptakan gemar membaca dan cinta pendidikan
-       Toko Tani Organik sebagai penunjang pertanian Organik dan merupakan Toko tani pertama yang khusus meyiapkan keseluruhan kebutuhan pertanian organic,
-       Agrowisata sebagai kebun wisata, dan bisa menjadi pendapatan tambahan buat petani dan
-       Seputar petani news sebagai media informasi buat petani se Nusantara.
Dari perjalanan tersebut akhirnya mampu mengantarkan saya bertemu dengan orang – orang hebat, seperti utusan Kedutaan Belanda (Vegimpact), Anggota DPRD, Calon Bupati Gowa dan Deputi IV Staf Presiden RI Jokowi – JK.


1 komentar:

  1. di Al-Qur’an ada sedikitnya 44 surah di 26 juz yang menyinggung pertanian. Sesuatu yang banyak sekali disebutkan seharusnya menjadi perhatian utama. Itulah sebabnya, disebutkan bahwa jika al-Quran berbicara tentang tugas manusia mengelola bumi dengan istilah Khalifah, maka seharusnya seluruh petunjuknya diturnkan juga. Nah, al-Quran sudah banyak memberi petunjuk mengenai persoalan mengelolahan bumi.
    Barangkali karena memang kita belum tahu, atau ia luput dari tadabbur kita, yaitu setiap kali Allah mengungkap sesuatu tentang nilai kebaikan, Allah selalu menjadikan tanaman-tanaman dan bebuahannya sebagai perumpamaan-perumpamaan. Sebuah perumpaan yang oleh Allah dikaitkan dengan pertanian. Berikut ini disebutkan sebagiannya.
    Saat Allah bercerita tentang hasil atau balasan bagi orang yang berinfaq di jalan Allah, diumpamakanNya seperti satu butir biji yang tumbuh menjadi tujuh bulir dan masing-masing bulir memberikan hasil seratus biji (QS 2:261). Di ayat selanjutnya, di surah yang sama Allah bercerita tentang orang-orang yang beramal hanya karena mencari ridlaNya dan untuk keteguhan jiwanya, diumpamakanNya sebagai kebun yang berada di dataran tinggi. Bila hujan lebat turun maka hasilnya dua kali lipat, bila hanya ada hujan gerimis-pun sudah memadai (QS 2:265).

    BalasHapus

'' TERIMA KASIH ATAS KOMENTAR ANDA''

''Tassilalo Ta'rapiki T'awwa, Sipakainga Lino Lattu Akhira''