Sabtu, 05 Januari 2013

Sejarah Masuknya Islam di Sulawesi Selatan


Sebelum agama Islam masuk ke tanah luwu, masyarakat mulanya menganut animisme. Setelah 10 abad lebih berdiri, kerajaan luwu baru menerima agama islam sekitar abad k eke-15 yaitu pada tahun 1593. Kerajaan luwu merupakan kerajaan pertama di Sulawesi-selatan yang menganut agama islam . Agama islam sendiri dibawa ke tanah luwu oleh Dato’ Sulaiman dan Dato’ ri Bandang yang berasal dari Aceh. Hal-hal mistik banyak mewarnai proses awal masuknya islam di luwu. Diyakini bahwa Dato’ Sulaiman dan Dato’ ri Bandang datang ke luwu dengan menggunakan kulit kacang. Mereka pertama kali tiba di Luwu tepatnya di desa lapandoso, kecamatan bua, kabupaten Luwu.
Setelah sampai, Datuk sulaiman lalu dipertemukan dengan tandipau ( maddika bua saat itu ). Sebelum menerima agama yang dibawa oleh datuk itu, tandipau terlebih dahulu menantang datuk sulaiman. Tantangan itu adalah tandipau akan menyusun telur sampai beberapa tingkat, apabila datuk sulaiman mengambil telur yang ada di tengah-tengah tetapi telur itu tidak jatuh atau bergeser sedikitpun, maka tandipau akan mengakui ajaran agama islam yang dibawa datu sulaiman. Tandipau berani disyahadatkan asalkan tidak diketahui oleh datu karena iya takut durhaka bila mendahului datu. Sebelum ke malengke ( ware’ ) untuk menghadap datu, kedua dato’ itu terlebih dahulu membangun sebuah mesjid di bua tepatnya di desa tana rigella yang dibangun sekitar tahun 1594 M yang merupakan mesjid tertua di Sulawesi-selatan. Mesjid ini pernah di masuki oleh tentara NICA  pada zaman penjajahan lalu menginjak dan merobek-robek al-qur’an yang ada di dalam mesjid. Hal inilah yang memicu kemarahan rakyat luwu lalu terjadilah perang semesta rakyat luwu pada tanggal 23 januari 1946 yang selalu diperingati oleh masyarakat luwu setiap tahunnya.
Setelah membuat mesjid di bua, datu sulaiman lalu diantar ke ware’ ( malengke ) untuk menemui datu pattiware’. Setelah terjadi dialog siang dan malam antara datu dengan dato’ sulaiman mengenal ajaran agama yang dibawanya, maka datu’ pattiware’pun bersedia diislamkan bersama seisi istana. Pada waktu itu pattiware’ sudah memiliki  tiga orang anak, yaitu pattiaraja ( 12 tahun ), pattipasaung (10 tahun yang kemudian menjadi pajung /datu luwu ke 16 menggantikan ayahnya )dan karaeng bainea( 3 tahun ), serta adik iparnya tepu karaeng ( 25 tahun ). Islam lalu dijadikan sebagai agama kerajaan dan dijadikan pula sebagai sumber hukum. Walaupun sudah dijadikan sebagai agama kerajaan, penduduk yang jauh dari ware’ dan bua masih tetap menganut kepercayaan sawerigading. Mereka mengatakan bahwa ajaran sawerigading lebih unggul disbanding ajaran agama yang dibawa oleh dato’ tersebut.
Setelah berhasil mengislamkan datu’ pattiware’, dato’ ri bandang atau khatib bungsu lalu pergi untuk menyebarkan islam di daerah lain di Sulawesi-selatan. Sedangkan dato’ sulaiman tetap tinggal di luwu agar bisa mengislamkan seluru rakyat luwu karena hal ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Beliau lalu wafat dan dikuburkan di malengke, tepatnya di daerah pattimang, dan iya pun diberi gelar dato’ pattimang.
Saat pusat kerajaan luwu ( ware ) dipindahkan dari malengke ke palopo, andi pattiware’ yang bergelar petta matinroe rimattimang ( 1587-1615 M ) datu pada zaman itu, memerintahkan untuk membuat suatu mesjid yang dapat digunakan oleh masyarakat palopo untuk menunaikan shalat secara berjamaah yang letaknya tidaklah jauh dari “ salassae” istana luwu.mesjid itu sendiri dibuat oleh pong mante pada tahun 1604 M dimana makamnya terdapat dalam mesjid djami itu sendiri, tepatnya dibawah mimbar yang besar. Konon batu yang dipakai untuk membangun mesjid itu dibawah dari Toraja dengan cara orang-orang berjejer dari toraja sampai ke Palopo lalu batu-batu itu diopor satu persatu. Sedangkan bahan yang dipakai untuk merekatkan batu yang satu dengan yang lainnya adalah putih telur yang diambil dari kecamatan walenrang, kabupaten luwu.
  Nama palopo itu sendiri yang sudah lama kita kenal berasal dari kata “pallopo’ni” yang diucapkan oleh orang-orang saat ingin menancapkan tiang masjid yang besar.panjang tiang utama mesjid ini sekitar 16 meter dan kayu yang di pakai adalah kayu cina guri,namun sekarang kayu jenis ini sudah tidak ada lagi konon kayu jenis cina guri ini dikutuk sehingga sekarang hanya menjadi rerumputan kecil yang biasa diberikan pada ternak sebagai makanan.arti kata”pallopo’ yang secara bebas berate”masukkan dengan tepat”. Menurut kepercayaan masyarakat sesesorang belum bisa di katakana menginjak palopo jika ia belum pernah masuk ke dalam mesjid djami.
Setelah empat abad lebih, bangunan mesjid djami’ masih utuh dan tetap terawat dengan baik sehingga pada tahun 2002 yang lalu mesjid djami’ palopo memperoleh penghargaan sebagai mesjid tua terbaik se-indonesia mengalahkan ribuan mesjid tua lainnya di nusantara. Setelah berkembang selama kurang lebih empat abad, agama islam kini menjadi agama yang mayoritas di anut oleh warga tana luwu dan Sulawesi-selatan pada umumnya.
Rakyat Sulawesi Selatan sudah lama berhubungan dengan Islam sebelum Islam menjadi agama di wilayah itu. Para pelaut dan pedagang Bugis dan Makassar berhubungan dengan masyarakat dagang yang kebanyakan Islam di daerah pantai utara dan barat jawa serta sepanjang Selat Malaka, dan dengan Ternate DI Maluku (yang mengadakan perjanjian persahabatan Kerajaan Gowa). Suatu masyarakat Melayu Islam telah bermukim di Kota Makassar sejak pertengahan abad keenam belas, dan Raja Goa menyambut kehadiran mereka dengan membangun sebuah masjid untuk mereka. Tetapi, daerah itu diislamkan hanya setelah Raja Gowa sendiri, beserta para penasihat terdekatnya memeluk agama Islam pada tahun 1605.
Rakyat di daerah itu berhubungan tidak hanya dengan Islam, melainkan juga dengan agama Katolik Roma lewat para pedagang ini. Ada orang-orang Portugis yang tinggal di Makassar, dan perubahan ke agama Katolik Roma terjadi di sana, juga di sebelah utara di daerah Suppa. Orang-orang Melayu Islam di Makassar, banyak diantaranya telah melarikan diri dari Malaka ketika kota itu jatuh ke tangah Portugis pada tahun 1511, memperingatkan agar waspada terhadap intrik-intrik dan maksud-maksud tersembunyi orang Portugis, dan mungkin merekalah yang mengambil prakarsa untuk mengundang para ulama Islam dating ke Makassar guna mengimbangi kegiatan orang-orang Portugis dalam menarik masyarakat setempat memeluk agama Katolik Roma. Tiga orang ulama tiba di Makassar pada akhir abad keenambelas. Mereka adalah orang Minangkabau dari Kota Tengah, Sumatera Barat, tempat kelahiran sejumlah orang Islam Makassar, dan anggota dari Perhimpunan Chalawatijah di Indonesia yang beraliran sufi ortodoks. Para ulama ini berjasa dengan diislamkannya Raja Gowa beserta paman dan penasihatnya, raja dari Kerajaan Tallo yang berkaitan. Sejak saat itu perkembangan Islam berjalan sangat pesat.
Raja Gowa mengeluarkan seruan kepada para penguasa kerajaan lain agar menerima agama Islam. Seruan itu dikatakan telah didasarkan atas persetujuan terdahulu, bahwa setiap penguasa yang menemukan suatu jalan baru, dan lebih baik, berkewajiban memberi tahu para penguasa lainnya mengenai penemuannya tersebut. Tetapi hanya kerajaan-kerajaan kecil yang memberi tanggapan positif. Dan Gowa, yang khawatir akan diperbaharuinya persekutuan Bone, Wajo, dan Soppeng terhadapnya, menyatakan perang suci terhadap lawan-lawan lamanya. Kerajaan-kerajaan yang keras kepala itu ditaklukkan, Soppeng pada tahun 1609, Wajo tahun 1610 dan Bone tahun 1611 dan dinyatakan masuk Islam. Hanyalah daerah-daerah pegunungan yang terpencil khususnya daerah Toraja di daerah pedalaman tengah dan daerah Bawakaraeng dan Lompobattang tetap di luar lingkup Islam.
Jadi, Sulawesi Selatan secara resmi masuk Islam, dengan kekerasan senjata kalau perlu. Ini merupakan perubahan kepercayaan masyarakat dari atas ke bawah, dan Islam masih tetap berkaitan dengan bangsawan setempat. Perlindungan kerajaan penting tidak hanya pada awal perubahan kepercayaan, melainkan juga dalam perluasan agama baru itu berikutnya. Tiga orang ulama Minangkabau tadi itu mendirikan pesantren, dan murid-murid mereka meneruskannya dengan mendirikan sekolah-sekolah baru. Para penguasa setempat bertindak sebagai pelindung bagi sekolah-sekolah tersebut. Masjid-masjid didirikan di kota-kota, dan mushalla di desa-desa. Kadi ditunjuk untuk hadat dan penguasa, tempat mereka bertindak sebagai hakim pengadilan agama (syariah). Imam (pengurus masjid) ditunjuk untuk wanua (masyarakat adat); dan guru (Anrong-Guru atau Anre-Guru) merupakan baik guru yang menyiarkan agama baru itu ke desa-desa maupun pejabat terendah dalam hierarki administrasi Islam. Guru menjadi anggota cabang pengadilan agama yang dikepalai Imam. Sanak kerabat kerajaan atau para bangsawan tinggi biasanya diangkat ke kedudukan kadi dan Imam. Agaknya, tidak ada ulama di sini, seperti halnya kiai di Jawa, di luar hierarki pemerintahan. Dengan demikian, tidak ada perbedaan antara aristokrasi dan para pemimpin Islam.
Tampaknya, sejak semula rakyat Sulawesi Selatan memenuhi kewajiban ritual Islam dengan taat, sehingga belakangan digambarkan “fanatik”, apapun kedalaman pengertian mereka mengenai ajaran-ajaran agama tersebut. Seorang pengunjung Prancis ke Makassar pada masa itu berkomentar:
….tidak bisa dibayangkan, dengan ketepatan apa orang-orang Makassar menjelaskan tugas-tugas yang diperintahkan oleh agama baru mereka.
Belakangan para pengulas Belanda mencatat penjajaran ketaatan yang teliti terhadap kewajiban ritual ini, dengan pengetahuan yang dangkal mengenai agama itu sendiri.
Perkembangan Islam yang cepat di Sulawesi Selatan dipermudah dengan kenyataan bahwa aliran Islam sufi yang bersifat mistiklah yang dibawa oleh ulama Minangkabau itu. Kesesuaian aliran sufi yang bersifat mistik dengan kepercayaan-kepercayaan yang sudah ada sebelumnya di Indonesia sudah sering dikemukakan; dan Sulawesi tidak merupakan perkecualian. Kepercayaan-kepercayaan yang lebih lama dan bersifat animistik pada kekuatan pembawaan makhluk, yang hidup dan mati, dan kekuatan benda-benda (terutama batu, sebagaimana di banyak tempat di Asia Tenggara) terus dipertahankan oleh banyak orang, dan upacara-upacara yang mencerminkan kepercayaan ini dan pengaruh agama Hindi-Budha kemudian, masih terus dilaksanakan sampai jauh dalam abad kedua puluh. Yang terutama mempunyai arti penting adalah diteruskannya pemujaan tanda-tanda kebesaran kerajaan, yang menjadi pusat kohesi spiritual masyarakat.
Tidak ada pemutusan yang tajam dengan kepercayaan dan kebiasaan lama karena orang memilih dari agama baru itu yang sama-sama yang tampak sesuai atau meyakinkan bagi mereka. Islam memberikan alternatif terhadap cara-cara biasa untuk melakukan sesuatu; kadang-kadang ajaran Islam menggantikan apa yang telah dilakukan sebelumnya, kadang-kadang peraturan baru dikesampingkan; dan kadang-kadang suatu sintesa barupun terciptalah. Dengan jalan ini kebiasaan dan kepercayaan Islam bercampur dengan apa yang sudah ada, dan bagian-bagian dari hukum Islam menjadi satu dengan praktek yang sudah lazim berlaku dalam masyarakat.
Di Sulawesi Selatan, Islam telah berjasa dalam membatasi kekuasaan tidak terbatas para raja, yang membuatnya lebih mudah bagi rakyat umum untuk mendekati mereka, dan yang menerapkan sedikit keluwesan dalam peraturan-peraturan kelas untuk perkawinan. Tetapi, adat adalah kewenangan terakhir; karena hadat-lah (yang pada hakikatnya adalah dewan adat) yang dapat memperkuat atau membatalkan keputusan pengadilan agama oleh Kadi. Kadi dan Imam lebih sering merupakan penasihat daripada anggota hadat, dan mungkin karena mereka pada umumnya adalah sanak keluarga penguasa seringkali mereka lebih memperhatikan keinginan-keinginannya daripada aturan-aturan hukum Islam.
Menjelang awal abad kedua puluh terdapat suatu sistem pengadilan Islam yang luas di Sulawesi Selatan, dengan yurisdiksi atas persengketaan yang mencakup perkawinan, perceraian, dan pewarisan. Tetapi, hukum yang mereka gunakan merupakan campuran dari hukum Islam dan hukum adat.

Tokoh –tokoh yang menyebarkan islam di Sulawesi- selatan
sejarah Islam Kabupaten Luwu dan Palopo, menerangkan bahwa kira-kira pada akhir abad XV M dan kira-kira pada tahun 1013 H, Agama Islam masuk didaerah Luwu yang dibawah oleh seorang alim Ulama yang arief ketatanegaraannya yaitu Datuk Sulaeman asal Minangkabau.

              Pada waktu itu Luwu diperintah oleh seorang Raja yang bernama Etenrieawe. Ketika Datuk Sulaeman mengembangkan ajaran agama Islam di wilayah ini, hampir seluruh masyarakat Luwu menerima agama itu. Ketika itu kerajaan dibawah naungan Pemerintahan Raja Patiarase yang diberi gelar dengan Sultan Abdullah ( saudara kandungnya bernama Patiaraja dengan gelar Somba Opu) sebagai pengganti dari Raja Etenriawe, kemudian Datuk tersebut dalam mengembangkan Misi Islam, dibantu oleh dua ulama ahli fiqih yaitu Datuk Ribandang yang wafat di Gowa, dan Datuk Tiro yang wafat di Kajang Bulukumba .dan Datuk Sulaeman wafat di Pattimang Kecamatan Malangke, _+ 60 Km jurusan utara Kota Palopo melalui laut .

Datuk Sulaeman yang berasal dari Minangkabau ini kemudian dikenal dengan nama Datuk Patimang, karena beliau wafat dan dimakamkan di Pattiman.
      Metode yang digunakan dalam penyebaran islam di Sulawesi-selatan
 -  Mendirikan pondok pesanten mengajarkan agama islam
 - Melalui perdagangan
 -   Melalui pernikahan, dan
 - Mendirikan mesjid


10 komentar:

  1. mungkin sama proses masuknya islam di limbung di? hehehe,

    BalasHapus
  2. Saya rasa sudah masukmi juga Limbung, Karena termasuk Sul - Sel mi juga....

    heheheh,
    maaf sedikit bercanda...

    BalasHapus
  3. ikutan bercanda yah! tapi serius juga isinya

    Islam masuk dihatiku sebelum aku lahir.
    terus terlahir pada keluarga Islam

    i love Islam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe,

      Istilahnya bercanda tapi serius yang bang Haris...???

      Hapus
    2. yang diseriusi bahwa Islam masuk di Nusantara (meluas sedikit) telah menyentuh kultur dan keyakinan yang telah ada sebelumnya, kuturnya kultur lokal pada masing-masing wilayah dan agamanya hindu, budha, kriten dan beberapa keyakinan lokal seperti agama patuntung disulawesi selatan.

      dalam kajian sejarah masyarakat nusantara, bisa disimpulkan bahwa Islam masuk dan berkembang karena tidak mengubah, tapi menyempurnakan. tidak membelokkan keyakinan lama tapi meluruskan dengan Islam. itulah Agama rahmatan lil 'alamin.

      Islam itu indah, makaya aku mencari wanita yang indah karena keislaman-Aqidahnya yang membuatnya Indah. heheheh (tidak bercanda)

      Hapus
    3. Islam memang sangatLah indah,
      jika kita mampu membuatnya indah...

      apalagi kita sering membaca sejarah akan masuknya islam di nusantara, bahkan sampai di Sul - sel...
      dan saya rasa ini tugas Bang Haris untuk memposting, sejarah - sejarah Islam khususnya di Sul - sel...

      Hapus
  4. pada dasarnya saya siap. namun kemampuan untuk itu yang belum bisa aku pastikan. mohon dukungannya untuk itu

    atau ini tanggung-jawab kita bersama

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dukungan selalu ada dan tanggung jawab, mari kita jawab bersama... hehehe

      Sedikit Bercanda Bang...

      Hapus
  5. pada masa lalu, Islam berjaya karena etikanya.
    hari ini Islam tak berdaya karena kemunduran etikanya.

    sesungguhnya jika Islam masih kita inginkan seperti semangat masa lalu yang membara, cukup perkuat akhlah dan aqidah. itulah yang pernah dilakukan oleh generasi-generasi terdahulu sebelum kita yang membuat islam jaya.

    hari ini harus diakui bahwa Islam mengalami kemunduran!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Satu Rangkaian kata...

      bahwa apakah kita butuh semangat baru ...???
      atau Don't Stop untuk Islam yang lebih jaya...???

      hehehe, sedikit terkait dgn Yel - yel pesta Demokrasi Sul - sel...

      Satu hal lagi apakah kita butuh GarudaNa untuk ini...???

      Hapus

'' TERIMA KASIH ATAS KOMENTAR ANDA''

''Tassilalo Ta'rapiki T'awwa, Sipakainga Lino Lattu Akhira''